Statis VS Dinamis

August 4, 2009 by Webmaster  
Filed under Opini

Dunia kita sekarang ini sedang dilanda problem yang sangat dilematis. Di segala bidang kehidupan ada saja konflik yang kerap kali mendatangkan kerugian bahkan kehancuran. Bila diteliti lebih jauh dan lebih spesifik akar dari masalah yang ada lebih sering berujung pada perbedaan pendapat dan orientasi. Read more

Perubahan Itu Perlu

August 4, 2009 by Webmaster  
Filed under Opini

Judul ini bukan merupakan sebuah ungkapan biasa. Bukan pula seperti kata-kata iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Ungkapan di atas merupakan sebuah keharusan untuk saat ini. Read more

Rahasia di balik mantra: "Membangun Manusia Pembangun"

August 4, 2009 by Webmaster  
Filed under Opini

Motto ini adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna luar biasa. Sepintas kita terjemahkan, “membentuk manusia-manusia yang bersifat membangun”, “memberdayakan manusia-manusia yang kemudian akan memberdayakan manusia-manusia lain”. Dari ungkapan ini, masih banyak lagi uraian kalimat yang mungkin bisa diungkapkan untuk mengartikan motto yang sangat menarik ini. Read more

Facebook: Haram or Halal?

June 4, 2009 by Webmaster  
Filed under Opini

Tanpa menyebut asal-muasal yang mengatakan bahwa facebook haram atau facebook halal, saya hanya memberikan sedikit pendapat tentang pendapat beberapa orang tentang facebook akhir-akhir ini. Read more

Memangkas Generasi Koruptor

March 25, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Memangkas Generasi Koruptor
Oleh A Yusrianto Elga

Senin, 26 Maret 2007
Fenomena korupsi tidak akan pernah ada habisnya dibicarakan di negeri ini. Korupsi telah membuat tatanan moralitas dan stabilitas ekonomi dan politik menjadi porak poranda. Mereka yang tertuduh berbuat korupsi seakan tidak memiliki beban atau rasa malu di hadapan publik. Bahkan, konon, kalau ada pejabat yang tidak bisa mengeruk kekayaan negara, dianggap tidak sukses kariernya di pentas politik.

Kenyataan menunjukkan bahwa hampir sebagian besar pejabat kita masuk dalam kategori orang-orang yang secara kualitas intelektual dan kredibilitasnya cukup mumpuni untuk itu. Ketika jabatan atau kekuasaan sudah berada di pundaknya, mereka janji-janji untuk bersikap “lurus” karena jalan untuk berbuat korup begitu terbentang luas.

Seperti dikemukakan filsuf Nietzsche, naluri manusia yang tidak pernah padam adalah kehendaknya untuk berkuasa. Dan, kekuasaan, kata Lord Action dalam salah satu suratnya kepada uskup Mandell Creighton pada April 1887, cenderung membuat seseorang berbuat korup. Dalam konteks ini korupsi sudah menjadi sebuah keniscayaan. Dikatakan niscaya, karena mereka yang berbuat korup tidak akan pernah mendapatkan sanksi sosial, sebagaimana seseorang yang mencuri ayam atau berselingkuh dengan anak tetangga, misalnya, yang dikucilkan oleh masyarakatnya.

Dengan demikian, gagasan tentang “jihad” akbar melawan korupsi yang cukup ramai diwacanakan sejak dulu hingga sekarang, hanyalah jargon belaka yang tidak ada dampaknya sama sekali secara moral. Banyak pejabat pemerintah yang tanpa malu-malu mencuri (dalam berbagai bentuknya) uang rakyat.

Hal itu tentu berbeda dengan gagasan tentang “perang melawan terorisme”, misalnya. Hal itu selalu diteriakkan oleh Barat untuk sesegera mungkin dibasmi, karena dapat mengancam tatanan kehidupan yang damai dan toleran. Sepintas, perlawanan terhadap terorisme secara moral sangat memberikan dampak yang luar biasa.

Tetapi kenapa upaya pemerintah dalam memerangi korupsi justru menemui banyak kendala yang cukup berat? Tentu, jawabnya tidak lain adalah karena korupsi sudah membudaya dan dianggap biasa-biasa saja. Sedangkan terorisme masih dianggap sesuatu yang menakutkan sehingga masyarakat “tidak ada yang tertarik” menjadi teroris.

Lalu pertanyaannya barangkali, dengan apa kita menyadarkan masing-masing individu bahwa korupsi adalah kejahatan kemanusiaan, yang jauh lebih besar dampaknya dibanding terorisme. Apalagi, jika dibandingkan dengan seseorang yang “hanya” mencuri ayam atau berselingkuh dengan anak tetangganya.

Di situlah pentingnya pendidikan antikorupsi dilaksanakan untuk memangkas generasi koruptor. Pendidikan antikorupsi adalah upaya jangka panjang untuk menyadarkan masing-masing individu di negeri ini ihwal bahaya korupsi. Karena itu penting diperkenalkan bahaya korupsi sejak dini di bangku-bangku sekolah dan dirumuskan menjadi sebuah kurikulum. Dengan demikian peserta didik sebagai generasi muda penerus bangsa menjadi paham bahwa korupsi tidak jauh berbeda dengan perbuatan amoral lainnya, seperti pembunuhan, pemerkosaan, penipuan dan lain sebagainya.

Melalui pendidikan antikorupsi, peserta didik diharap lebih arif tindakannya, jernih pikiran dan suci hatinya. Sehingga pada gilirannya mereka betul-betul ketakutan atau mengalami tekanan psikologis, sebagaimana halnya mencuri telur ayam tetangganya, ketika dihadapkan dengan situasi dan kondisi yang memungkinkan mereka berbuat korup.

Selama ini, pendidikan antikorupsi belum menjadi kurikulum yang disepakati oleh seluruh insan akademis. Sehingga tidak heran kalau kemudian hari, dari sekian daftar koruptor di negeri ini adalah jebolan-jebolan dari sekolah atau perguruan-perguruan tinggi yang cukup ternama. Sungguh ironis memang, ketika kita menyaksikan mereka yang dulunya cukup agresif dalam meneriakkan keadilan dan kesejahteraan sosial, tiba-tiba menyelewengkan bantuan kemanusiaan, mencuri kas negara.

Selain pentingnya pendidikan antikorupsi, peserta didik juga harus diperkenalkan ihwal jabatan atau kekuasaan yang sejatinya sebagai panggilan hidup, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Max Weber. Sehingga jabatan atau kekuasaan tidak selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang negatif. Tetapi melalui pemahaman semacam itu, peserta didik diharap memandang dengan kaca mata objektif, bahwa jabatan atau kekuasaan menjadi sesuatu yang wajib sifatnya sepanjang ada upaya membangun tatanan kehidupan yang benar-benar adil, sejahtera dan demokratis.

Selama ini yang terjadi justru sebaliknya: memegang jabatan berarti berkesempatan memanfaatkan jabatan sebagai ladang subur untuk menumpuk harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya. Itu bisa terjadi-meminjam bahasa Kwik Kian Gie (2006)-karena pikiran mereka sudah terkorupsi (corrupted mind). Sehingga dengan cara apa pun sangat sulit diberantas karena sudah menjamur dan beranak-pinak.

Karena itu, memperkenalkan atau menyosialisasikan pentingnya pemahaman seputar jabatan dan kekuasaan sejak dini merupakan sesuatu yang niscaya bagi keberlangsungan generasi muda kita, yang nantinya akan meneruskan perjuangan negeri ini. Dengan demikian, pemberantasan korupsi akan semakin mudah, karena masing-masing individu sudah diasah betul kejernihan pikiran dan kesucian hatinya sejak dini melalui pendidikan antikorupsi.

Tetapi, sebaliknya, selama pemberantasan korupsi masih terpaku pada soliditas atau komitmen lembaga-lembaga formal seperti KPK atau Timtastipikor, maka tak ada jaminan masa depan bangsa ini akan semakin baik. Generasi koruptor akan terus bermunculan, hilang satu tumbuh seribu. ***

Penulis adalah peneliti di Central for Studies of Religion
and Culture (CSRC) Yogyakarta dan lembaga
penelitian Indexpress Yogyakarta

MEMAKNAI PENDERITAAN

March 9, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Kitab Suci Kristren melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.
Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat? Read more

Bencana dan Makna Berkurban

February 21, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Oleh Nurtria Rendi Rahmadi

Dua tahun yang lalu gempa bumi dan tsunami telah memorak-porandakan Aceh dan sekitarnya. Ribuan orang menjadi korban dan banyak anak yang kehilangan orangtua. Tidak terbayangkan pula puluhan desa hilang dalam sekejap ditelan ganas tsunami yang juga menyapu negara- negara tetangga seperti Thailand dan India.

Read more

Suara Hati

February 18, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Oleh Toto SupartoJika seseorang, yang suka mengganggu dan mengesalkan masyarakat yang cinta damai, akhirnya menerima cambukan secukupnya, hal ini menyakitkan tetapi tiap orang menyetujui dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya, meski selanjutnya tak sesuatu pun dihasilkan darinya.”

Begitu pandangan klasik filsuf Imanuel Kant yang belakangan ini sering diungkit lagi saat hukum tak lagi mengikuti asas kesetimpalan.Acapkali hukum melahirkan ironi. Meminjam istilah John Evan Seery saat menulis Political Return, ironi merupakan kecenderungan yang dicirikan dengan berbagai cakupan sifat: kontradiktif, inkonsistensi, anomali, janggal, abnormalitas, berlebihan, dan ada di luar garis. Hukum kita penuh kejanggalan. Read more

KEBEBASAN

February 9, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Sungguh menarik bila hidup dalam kebebasan. Setiap orang pasti mendambakan kebebasan. Kebebasan menjadikan seseorang menjadi dirinya seratus persen.
Tapi apakah semua orang sudah menikmati dan mendapatkan kebebasannya? Kalau ini dipertanyakan, jawaban pasti tidak dapat kita berikan. Kenyataannya, masih banyak di antara kita yang mendambakan kebebasan dalam hidupnya. Apa sebabnya?
Inilah yang perlu kita jawab masing-masing kita. Ada saja di antara kita yang dengan sengaja tidak memberikan kebebasan kepada orang lain. Kita menjadi penghambat bagi orang lain menikmati kebebasan yang adalah hak azasinya sendiri.
Kita dapat mensharingkan hal ini dalam forum-forum terbuka dalam media yang tersedia. Ingin menjadi anggota, silahkan daftarkan diri anda dengan menulis komentara anda.

UAN Dalam Pengamatan

February 9, 2007 by Webmaster  
Filed under Opini

Berbicara tentang UAN (Ujian Akhir Nasional), kita dapat merujuk ke berbagai pendapat yang sudah diungkapkan melalui media-media komunikasi. Beberapa pendapat yang saya masukan dalam situs ini menunjukkan betapa banyaknya respon masyarakat terhadap UAN. Read more

Next Page »